Sugeng Khan

Graphic Design I Printing I Photography I Publishing

Narasi Sejarah Relasi Bugis Melayu

Relasi Bugis-Melayu yang dibahas buku ini tentu hanya satu contoh kasus dari apa yang disebut sebagai jantung kehidupan sosial-politik masyarakat Indonesia. Relasi etnis sudah berlangsung lama dan kini umum terdapat di setiap penjuru negara-bangsa ini, yang secara historis-sosiologis memang menjadi rumah bagi massa yang beragam. Hal penting dari hubungan Bugis-Melayu di Riau-Johor terletak pada proses-proses historis yang jauh melampaui pertemanan sosial dan hubungan politik; justru, relasi tersebut telah mendorong lahirnya pemikiran baru untuk membangun sistem kemasyarakatan dan mekanisme pengelolaan kekuasaan. Tuhfat al-Nafis karangan Raja Ali Haji (1809-1872) memberi kita narasi historis bagaimana proses-proses relasi etnis tersebut berlangsung, utamanya setelah kesepakatan power sharing antara Bugis dan Melayu di kerajaan Riau-Johor pada 1722. Teks yang selesai ditulis pada 24 November 1866 itu tampil sebagai dedicated historiography untuk menyuguhkan suatu rekonstruksi sejarah bagaimana perbedaan dan konflik etnis berada dalam kerangka budaya politik berorientasi-raja, sehingga melahirkan tradisi bina-kerajaan yang terbukti efektif bagi kemajuan Riau-Johor di barat Nusantara pada abad ke-18.